How it Works

Goal 5,000 Photos

Total Foto

Kado Istimewa terkumpul

Hari lagi

Upload Saya

Cerita ibu

Ibu Absah lahir dan besar di desa Pasir Nangka, Muncang. Dia tinggal sendiri, janda dari suaminya yang telah wafat bertahun-tahun lalu. Meskipun sulit, Ibu Absah mengijinkan kesemua anaknya pergi merantau sejak muda, beliau sadar tidak banyak yang bisa mereka harapkan bila tetap tinggal di desa. Hanya setahun sekali bertemu, lebaran adalah waktu yang paling ibu Absah nantikan. Satu-satunya anggota keluarga yang tersisa adalah kakak kandung beserta keluarganya.

Ibu Absah tidak punya listrik. Dia tidak mampu membayar biaya pemasangan KWH dan bulanan yang cukup mahal baginya. Jadi setiap malam, Ibu Absah bergantung pada lampu minyak tanah agar tetap dapat beraktifitas di malam hari. Beruntung baginya, suatu hari salah satu cucunya memustuskan untuk menetap dan tinggal bersebelahan dengan Ibu Absah. Dari dialah, Ibu Absah akhirnya mendapatkan penerangan meski hanya satu bohlam lampu yang hanya menerangi ruang utama di rumahnya.

Lampu minyak tanah masih tetap dipakai, meski tak sesering dulu. Setiap hari, Ibu Absah dan kakaknya bekerja di ladang orang lain sebagai buruh tani. Ladang ataupun sawah, hanya milik segelintir orang kaya di desa mereka. Terkadang pekerjaan memaksa mereka bekerja sampai menjelang malam. Apabila sudah demikian, seringkali mereka harus bermalam di ladang karena desa mereka belum ada lampu jalan. Di ladang masih ada kayu yang bisa dibakar akunya.

Saat kami memberitahu bahwa kami ingin memberikan satu lampu tenaga surya agar Ibu Absah berhenti memakai lampu minyak tanah, beliau sumringah. “Nanti kalau sudah ada lampu dari mbak, saya dan kakak ga perlu nginep di ladang lagi. Pasti kelihatan jalannya” ujar Ibu Absah sambil tersenyum malu.